Dutamasyarakatnews.com, Sampang – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Sampang memberikan atensi serius terhadap penyebaran penyakit campak yang kini menembus angka 90 kasus di wilayah setempat, Selasa (7/4/2026).
Berdasarkan data dari 22 Puskesmas, sebaran kasus paling menonjol ditemukan di wilayah Puskesmas Tambelangan, Banyuanyar, dan Robatal yang masing-masing mencatatkan 12 kasus. Sehingga, menuntut langkah antisipasi cepat dari pemerintah daerah guna mencegah penularan yang lebih meluas.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Syamsul Hidayat, melalui Ketua Tim Survei Imunisasi Dinkes KB Sampang, Laili Nafila, mengatakan bahwa puluhan kasus tersebut terdeteksi dari hasil pengambilan sampel di 11 kecamatan.Ia menyebutkan, koordinasi terus dilakukan dengan jajaran fasilitas kesehatan di tingkat kecamatan untuk memantau perkembangan pasien, meskipun terdapat dua puskesmas yang hingga saat ini belum memberikan laporan resmi terkait temuan kasus di wilayah kerja mereka.
“Dari 90 kasus tersebut diambil sampel dari 11 kecamatan yang mengarah ke campak, kecuali Puskesmas Tamberuh dan Bunten Barat yang tidak melaporkan,” ujarnya.
Masih kata Laili, menjelaskan bahwa terkait adanya informasi mengenai kematian pasien, pihaknya membenarkan terdapat satu orang warga Kabupaten Sampang yang meninggal dunia akibat komplikasi penyakit campak. Namun, pihak Dinkes KB memberikan klarifikasi bahwa pasien tersebut memiliki riwayat perjalanan dari luar daerah dan sudah dalam kondisi sakit sebelum tiba di kampung halaman untuk melaksanakan mudik.
“Pasien berasal dari Kecamatan Kedungdung, tetapi sudah sakit mulai mudik dari Jakarta dan tidak sempat pulang ke rumahnya, langsung dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
Ditambahkan Laili, menegaskan bahwa pihak Dinkes KB Sampang juga menekankan pola penularan virus ini sangat bergantung pada interaksi fisik, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik secara berlebihan. Munculnya kasus kematian ini, menjadi pengingat keras bahwa daya tahan tubuh yang lemah, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap, sangat berisiko tinggi saat terpapar virus menular.
Fenomena tingginya angka kasus campak di Sampang ini dinilai berkaitan erat dengan rendahnya cakupan imunisasi di sejumlah wilayah yang mengakibatkan kekebalan kelompok tidak terbentuk secara maksimal.
Faktor kesadaran masyarakat menjadi kunci utama, karena rata-rata penderita yang ditemukan merupakan mereka yang sebelumnya tidak mendapatkan perlindungan imunisasi secara rutin sejak dini.
Sebagai langkah penanganan jangka panjang, Dinkes KB Sampang kini semakin gencar melakukan promosi kesehatan melalui berbagai lini, mulai dari penguatan peran Posyandu hingga menggandeng tokoh agama.
“Pemanfaatan media sosial juga menjadi strategi utama pemerintah untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya imunisasi dasar lengkap guna memutus mata rantai penyebaran penyakit mematikan ini di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Sof)










